Soicauchuan79.me - Para siswa
tampak tekun menghadapi layar komputer. Tangan mereka lincah memainkan tetikus
(mouse). Sedang asyik main game? Tentu tidak, yang terlihat di muka adalah dahi
yang berkerut pertanda para siswa sedang berpikir keras. Wajar karena memang
siswa kelas III Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Majene, Sulawesi
Barat, sedang menghadapi ujian akhir sekolah. Namun, berbeda dari sekolah
kebanyakan, selama seminggu, sejak Senin pagi, siswa kelas III SMK 2 Majene
kelompok Bisnis dan Manajemen menjalani ujian akhir sekolah berbasis online.
![]() |
| Tinggal Klik dengan Mouse, Tanpa Pensil, Tanpa Kertas Ujian |
Di hadapan
siswa, tidak ada lembaran kertas yang mesti diisi, atau pensil dan pena untuk
mengisi jawaban. Dengan sistem ini, setiap siswa mendapat meja lengkap dengan
satu set komputer. Dengan memasukkan password nomor ujian mereka, setiap siswa
akan mendapatkan soal pilihan ganda (multiple choice). Satu siswa dengan siswa
lain mendapatkan soal yang berbeda urutannya.
Menurut
administrator ujian SMK 2 Majene, Rusman Rahman, sekalipun total 50 soal sama,
sistem memungkinkan soal-soal itu teracak susunannya. Dengan begitu, siswa akan
lebih sulit kalau ingin berbuat curang. "Susah kalau mau mencontek,"
ujar Rusman menirukan tanggapan para siswa.
Tinggal Klik
Selama ujian
yang berlangsung 90 menit per mata pelajaran, mereka tinggal mengklik pada
pilihan jawaban yang dianggap benar. Bagi Sukardi Yunus, siswa jurusan
Perkantoran, sistem ujian online relatif lebih enak ketimbang ujian dengan cara
konvensional. Yang jelas, siswa tidak perlu repot-repot menulis di lembar
jawaban.
Yang lebih
enak lagi, setidaknya bagi guru, hasilnya bisa langsung diketahui selepas
ujian. Cukup dengan memerintahkan "proses dan periksa", siswa
langsung mengetahui nilai ujian yang baru saja ditempuhnya.
Para guru
tentu lebih nyaman dengan sistem ini sekalipun selambat-lambatnya seminggu
sebelum pelaksanaan ujian, mereka mesti merampungkan soal-soal yang akan
diujikan. Waktu seminggu dibutuhkan untuk meng-input soal.
Awalnya,
memang sulit untuk menjalankan sistem ujian online tersebut. Namun, nyatanya,
sejak 2006 sistem tersebut bisa diterapkan. Di tataran praktis, ujian online
juga terbukti menghemat anggaran.
Sekalipun
secara umum lebih menguntungkan siswa dan guru, tetap saja ada masalah yang
terkadang membuat pelaksana ujian ketar-ketir. Pasokan listrik di Sulawesi yang
secara umum tidak cukup senantiasa menjadi kendala klasik. Untungnya, ada
uninterruptible power supply (UPS) yang setidaknya cukup untuk 30 menit jika
listrik tiba-tiba padam.
Namun,
Rusman mengaku siap jika model ujian online bisa dikembangkan lebih lanjut.
Bukan sekadar SMK 2 saja, bisa saja sistem tersebut dikembangkan untuk seluruh
Majene ataupun Sulawesi Barat. Bahkan, bukan sekadar ujian akhir sekolah, bisa
saja sistem ujian itu diterapkan untuk ujian nasional. Mau?

0 Comments