Soicauchuan79.me - Saya adalah orang yang mempercayai
bahwa makanan menjadi cermin dari budaya identitas dari suatu daerah. makanan
dari suatu tempat sangat terpengaruhi oleh sumber daya, iklim dan vice
versa-budaya itu sendiri. Ini yang membuat traveling dan kuliner menjadi
sahabat sejati yang saling melengkapi. Setiap daerah yang saya kunjungi selalu
memiliki keunikan dalam hal kuliner, dan memberikan pengalaman baru.
![]() |
| Jalan-jalan ke Siam Street Food |
Hal ini juga yang saya sadari ketika ketiga kalinya
mengunjungi Thailand. Negeri gajah putih ini memag memiliki kuliner khas yang
mendunia seperti Tom Yam, Pad Thai atau green currynya. Namun mencuri perhatian
saya adalah budaya penjual makanan pinggir jalannya yang menjamur. Hampir
seluruh jalan di Bangkok, Phuket atau jauh di selatan seperti Hat Yai
sekalipun, kita bisa melihat penjaja makanan di pinggir jalan, terkadang
trotoar jalan menjadi lebih seperti pasar makanan ketimbang tempat berlalu
lalang.
Penjaja makanan di Thailand, sedikit berbeda dengan yang
ada di Indonesia, apabila Indonesia memiliki warung makanan kaki lima di
pinggir jalan seperti pecel lele, sate, nasi goreng dimana memiliki gerobak
besar dengan tempat makan dengan kursi kayu yang memakan trotoar. Berbeda
halnya dengan penjaja makanan Thailand dengan gerobak kecilnya, menjual
beraneka macam makanan untuk dibawa, tidak dimakan di tempat.
Keunikannya?Penjaja kaki lima di Thailand memiliki keragaman yang sangat
bervariasi. Berbeda tempat dan waktu berbeda maka pula makanan yang ditawarkan.
Seakan seluruh kekayaan alamnya dapat disajikan dalam racikan yang unik dan
beragam.
Menurut David Thompson dalam bukunya ”Thai Street Food”,
sejarah penjaja makanan di Thailand dimulai oleh pengaruh oleh masuknya
pelancong Cina ke Thailand pada awal abad 20, seiring dengan transformasi
kerajaan Siam menjadi Thailand yang modern. Imigran Cina yang hidup di asrama
kecil bersama dengan pelancong lainnya kesulitan untuk membuat makan di tempat
tinggal mereka karena keterbatasan ruang, Akhirnya membeli makan di pinggir
jalan.
Seiring dengan pesatnya penduduk cina yang bermigrasi,
menjamur pula penjaja makanan yang menyediakan makanan dengan cara menggendong
jualannya keliling kota. Makanan yang dijajakan umumnya adalah masakan yang
sudah dimasak dan siap saji, dan biasanya berkeliling di jalanan setengah hari,
dikarenakan makanan saji yang tidak tahan lama. Ketika hari berganti malam,
berganti pula pedagang dan jenis dagangan yang disajikan.
Namun penjaja makanan seperti saat ini baru dimulai
sekitar tahun 1960an, dimana arus urbanisasi di Thailand mulai mengalir. Dengan
infrastuktur yang mulai dibangun, jalur distribusi bahan makanan ke kota besar
menjadi lebih mudah, membuat penjaja makanan menjamur di kota besar dan pusat
keramaian kota. Keranjang gendong pun mulai ditinggalkan diganti gerobak dorong
yang dilengkapi tempat memasak yang instan.
Sesuai budaya makan dari masyarakat Thailand, jenis
makanan jalanan berdasarkan dari waktu. Pagi, siang dan malam hari. Waktu pagi
adalah dimana mereka menjajakan makanan ringan atau buah untuk sarapan untuk
dibawa, biasanya yang dijajakan adalah makana cepat saji. Favorit saya adalah
campuran nasi dan telur dadar, tak lupa Thai ice tea khas Thailand. Siang hari,
makanan berat cepat saji dan snack berat memenuhi sisi jalan. Dan malam hari
menjadikan jalanan negeri ini menjadi lebih meriah, karena dimalam hari
biasanya pedangang menyediakan meja dan bangku untuk makan di tempat, dimana
yang disajikan bukan lagi cepat saji, dan menjadi surga bagi pencinta kuliner.
Yang menjadi makna dari penjaja makanan ini adalah mereka
tidak hanya menjual makanan, namun menjadi bagian dari rantai dari kehidupan
sosial masyarakat. Dimana mereka bertemu dengan pedagang setiap hari, tempat
bertukar informasi dan bersosialisasi.

0 Comments